Rabu, 14 Mei 2014

Euphonium


Euphonium ialah ialah suara 'tenor' bagi alat muzik brass. Ia mendapat nama dari zaman greek iaitu dari perkataan 'euphonos' yang bermaksud 'bunyi yang sedap'. Euphonium menggunakan 'valves' (injap). Euphonium yang selalu digunakan adalah menggunakan 'piston valevs' sama seperti trumpet, tetapi ada juga euphonium yang menggunakan 'rotary valves'.

Pemain yang memainkan alat ini dipanggil 'euphoniumist', 'euphophonist' atau 'euphonist', tetapi british mengelarkan mereka yang bermain euphonium adalah 'euphists'.

Terdapat juga euphonium yang digunakan untuk pancaragam, dan dikenali sebagai 'marching Euphonium'.
 

Trombone

Trombone
Trombone adalah salah satu alat muzik daripada keluarga brass. Perkataan trombone berasal daripada perkataan itali yang bermaksud trumpet. Perkataan 'one' di belakang trombone itu mebawa maksud trumpet yang panjang. Beethoven adalah komposer pertama yang mempopularkan trombone didalam simfoninya. Beberapa jenis muzik yang menggunakan trombone adalah seperti Jazz, reaggae, ska dan big band. 

Rabu, 07 Mei 2014

Gedombak


Gedombak dalam bahasa Arab disebut “darabuka”, di Turki menyebutkan “deblak”, di Siam menyebutkan “thon”, sedangkan di Persia menyebutnya “dompak”. Gendang ini berbentuk kerucut dengan kepalanya bulat besar di taruh kulit kambing, sedangkan ekornya terbuka guna utnuk mendengarkan suara dengan cara membuka dan mengatupkannya. Di beberapa negeri Melayu, gedombak ini hanya dipergunakan dalam musik Melayu utnuk Menora, Wayang Orang (Kelantan, Patani) tetapi di Serdang dan di Kepulauan Riau pernah juga dipakai dalam musik Makyong. Gedombak besar disebut “induk” dan yang kecil disebut “anak”.

Gendang panjang

 
Di India disebut “dhol”. Gendang panjang ini kedua sisinya ditutupi kulit. Selalu dimainkan dua buah, yang besar disebut “induk” dan yang agak kecil bentuknya disebut “anak”. Panjangnya rata-rata 21 inci terbuat darpada kayu merbau yang kerasa dan tahan lama. Atu sisinya lebih kecil daripada sisinya yang lain. Gendang anak kulitnya terbuat dari kulit kambing sedangkan gendang induk kulitnya terbuat dari kulit kerbau. Kulit yang terletak di kedua sisinya itu diikat dengan rotan yang dibelitkan.
Untuk memainkan gendang panjang ini diperlukan keahlian tangan dan jari-jari lincah, kecepatan, dan pandai meningkah menurut irama. Di dalam musik untuk mengiringi silat. Biasanya gendang panjang ini dipukul dengan buah rotan.


Karinding

Karinding adalah alat musik tradisional suku Sunda, Jawa Barat. Karinding berasal dari beberapa tempat di Jawa Barat seperti dari Citamiang, Pasir Mukti, Tasikmalaya, Malangbong (Garut) dan Cikalong Kulon (Cianjur). Di daerah ini biasanya alat musik tradisional karinding dibuat dari pelepah kawung atau pohon aren sedangkan dibeberapa tempat seperti di Limbangan dan Cililin, kebanyakan alat musik karinding dibuat dari bambu.
Alat musik tradisional karinding ini sangat unik,  selain dari asal daerah pembuatan karinding, ternyata pemakai karindingpun mempengaruhi bahan pembuat karinding itu sendiri. Untuk karinding yang dibuat dari bambu digunakan oleh perempuan. Bentuknyapun sedikit kecil dan memanjang, konon alat musik ini juga digunakan sebagai susuk yang diselipkan dalam gelungan rambut pemakainya. Sedangkan untuk karinding yang terbuat dari pelepah kawung digunakan oleh pria. Bentuknyapun lebih pendek agar mudah menyimpan tembako (tembakau)
Karinding merupakan alat musik sunda yang terbilang unik, terbuat dari daun pelepah kawung atau bilah bambu, getar nadanya tergantung kemampuan pengolahan rasa dari peniupnya. Kepekaan rasa sangat diperlukan dalam memainkan alat musik ini, karena tidak tidak memiliki nada-nada permanen seperti halnya alat tiup lainnya. Alat musik karinding tergantung dari kemampuan mengolah gema rongga mulut dari peniupnya.
Karinding memiliki tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada yang disebut cecet ucing (buntut kucing), lalu pembatas jarum, dan bagian ujung yang disebut panenggeul (pemukul). Panenggeul jika dipukul oleh tangan akan berfungsi untuk menggerakan jarum. Maka, keluarlah bunyi khas dari karinding.
Disebut karinding karena dari sejenis serangga sawah yang nyaring bunyinya yaitu Karindingan (kemungkinan serangga jenis ini sudah punah). Pada jaman dahulu Karinding tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Pertanian sunda karena digunakan untuk mengisi kebosanan saat di ladang. Resonansi suaranya dapat digunakan sebagai pengusir hama. Seni karinding juga digunakan kaum 'Jajaka' (pemuda) untuk menaklukan hati pujaan hatinya.

Gong

Gong adalah alat musik yang umumnya terbuat dari logam, ada berbagai macam jenis gong rata-rata diciptakan di wilayah Asia, setiap gong di negara yang satu pasti berbeda dengan gong yang di ciptakan negara lainnya maka itu setiap gong yang dibuat pasti memiliki khas yang mencirikan bahwa gong tersebut berasal dari suatu negara sebagai alat musik tradisional baik dari segi bentuk maupun suara.
Misalnya saja di korea selatan ada alat musik sejenis gong yang bernama Kkwaenggwari terbuat dari logam kuningan ukurannya tidak terlalu besar dan memiliki tali yang berfungsi sebagai pegangan ketika di mainkan, cara memainkan Kkwaenggwari adalah dengan memegang tali yang ada pada Kkwaenggwari menggunakan kelima jari pada salah satu tangan kemudian tangan yang lain memukul Kkwaenggwari dengan menggunakan stik kecil.


Di Indonesia sendiri kita mengenal beragam jenis gong yang terdapat pada instrumen gamelan jawa, seperti bonang barung, pencon, dan kulintang. Fungsi sebenarnya gong  dalam kesenian alat musik tradisional Indonesia adalah sebagai penanda permulaan dan akhiran gendhing serta memberikan rasa keseimbangan setelah kalimat lagu gendhing yang panjang berlalu. Yang paling umum ada macam gong yang sudah terkenal di Indonesia yaitu gong ageng (besar) dan gong Suwuk yang berukuran sedang.


Yang amat disayangkan adalah kini begitu jarang orang yang mempelajari budaya kesenian asli Indonesia dikarenakan keterkarikan mereka yang lebih besar untuk mempelajari musik modern, tetapi yang patut disyukuri adalah gong masih digunakan sebagai simbolisai dimulainya dan diakhirinya suatu acara, gong juga sering digunakan sebagai peresmian gedung baru atau tempat umum memang penggunaan gong pada saat-saat tersebut tak jauh berbeda dengan fungsi gong ketika berada dalam kesatuan instrumen gamelan sebagai awal dan akhiran gendhing.

Setidaknya dengan cara seperti itu gong masih bisa dikenal oleh masyarakat luas sehingga gong tidak terlupakan sebagai salah satu kesenian tradisional Indonesia. 

 Ditulis oleh bang goffur, Monday, February 17, 2014

Ceng-ceng

 Alat Musik cengceng
Ceng-ceng adalah bagian penting dari seperangkat gamelan Bali. Di antara alat gamelan yang lain, dalam satu performa, ceng-ceng memegang peran yang sangat penting.
Ceng-ceng Bali ini juga dikenal dengan sebutan ceng-ceng ricik. Bahan terbuat dari kayu nangka dan tembaga. Terdiri atas 6 (enam) buah logam bundar bagian bawah dan 2 (dua) logam bundar bagian atas.
Cara memainkan alat musik tradisional Bali ini adalah dengan cara “memukulkan” bagian tembaga bundar yang atas (berjumbai merah) ke bagian tembaga bundar bawah yang menghadap atas. Sehingga timbullah suara ””ceng-ceng-ceng,…ceng-ceng-ceng,..”… Pemainnya biasanya memegang kedua bagian yang atas dengan menggunakan kedua tanggannya sehingga suaranya nyaring,keras dan khas simbal Bali…
Ceng-ceng Bali dibuat dengan bentuk kura-kura. Ini bisa dipahami karena pengukirnya mungkin  mengambil tokoh legenda Bali yaitu kura-kura mistis. Konon, di kebudayaan Bali, kura-kura mistis ini  memiliki nilai magis yaitu menyeimbangkan dunia di atas punggungnya. Tuh, lihat saja: giginya rapi kayak di’pangur’ dan ada taringnya, kaki-kakinya memiliki jari yang panjang seperti tangan manusia. “Ceng-ceng-ceng,…Ceng-ceng-ceng’
Biasanya ceceng ceng ricik berfungsi  untuk membuat angsel.
Dan bisanya cengceng ricik mengikuti angsel angsel dari kendang dan riong .
Di dalam gamelan bali cengceng ricik digunakan pada barungan gamelan gong kebyar, gong gede, semar pegulingan , pelegongan, bearongan dan barungan gamelan lainnya.
Di bagian atas perunggu cengceng terdapat tali untuk memegang cengceng, yang di atas nya terdapat tali atau benang merah yang di buat sedemikian rupa yang disebut dengan bungan cengceng.

Di Post oleh  Adiyuliana

Tehyan

 
Tehyan adalah tradisional musik dari Jakarta atau betawi. Alat musik ini berasal dari China yang dibawa keturunan Thiong Hua yang dahulu menetap atau singgah di Indonesia. Tak heran di zaman modern saat ini banyak orang bertanya apa sih itu Tehyan….?? dan yang lebih mengkhawatirkan lagi kini kebanyakan sebagian besar penduduk asli Jakarta (Betawi) tidak mengenal alat musik yang satu ini. Padahal tehyan adalah salah satu alat musik langka yang harus dijaga kelestariaan.
Tehyan memiliki 3 jenis, yaitu Sukong, Tehyan dan Kong ahyan. Perbedaan paling mendasar terletak pada bentuk ukurannya. Sukong bila dilihat dari bentuknya memiliki ukuran paling besar dengan nada dasar “G” dengan suara yang memilik desibel tinggi (disebut juga Bass) dan Kongahyan memiliki ukuran yang paling kecil dengan nada dasar “D” (disebut juga Melody). Sementar Tehyan biasa disebut Rythem dengan ukuran menengah antara Sukong dan Tehyan yang memiliki nada dasar “A”.
Saat ini penggunaan Tehyan sangat langka, mungkin hanya sesekali kita dengar disetiap acara kebudayaan Betawi seperti pertunjukkan Gambang Kromong, Ondel-Ondel ataupun Lenong Betawi. Jarang pula orang yang dapat memainkan alat musik gesek yang memilik 2 senar ini.  Kebanyakan pemain tehyan adalah orang tua (sudah lanjut usia), walaupun ada pemain tehyan yang usianya muda itu sudah jarang sekali. Mungkin hal ini dikarenakan perkembangan alat musik modern yang sangat berkembang dengan pesat.
Beli anda ingin melihat video seseorang yang tengah memainkan Tehyan silakan klik disini. Dan apabila anda berminat untuk memiliki alat musik ini (Tehyan) anda dapat membelinya disini.
Dengan adanya artikel ini kami harap ada sebagian orang (khusnya anak muda) yang mau mempelajari dan tetap melestarikan alat musik tradisional khas betawi yang merupakan perpaduan antara unsur pribumi dan unsur luar (China). Apabila anda berminat mempelajarinya (Tehyan) kami dapat membantu anda dalam memberikan pelatihan atau kursus untuk memainkannya.

Gambus


Tanjidor

Tanjidor adalah salah satu musik tradisional Betawi yang sekarang sudah mulai jarang ditemukan. Tanjidor adalah salah satu jenis musik yang banyak mendapat pengaruh dari musik Eropa. Kata "tanjidor" adalh kata dalam bahasa Portugis tangedor, yang artinya "alat - alat musik berdawai". Dalam kenyataanya, arti kata tanjidor tidak sesuai dengan alat - alat musik yang dimainkan, dalam tanjidor, alat - alat musik yang dimainkan kebanyakan adalah alat musik tiup seperti, karinet, trombon, piston, seksofon. Secara lengkap instrumen musik yang digunakan dalam orkes tanjidor adalah klarinet, pistone, trombon, terompet, seksofon tenor, seksofone bass, drum, simbal, side drum. Biasanya pemain tanjidor terdiri dari 10 - 7 orang pemain musik dan 1 - 2 orang penyanyi. Musik yang muncul pada abad ke-18 ini, pada zaman dahulu sering dimainkan oleh para sekelompok petani yang menghabiskan waktunya setelah musim panen. Mereka biasanya menunjukan kebolehan mereka dengan cara mengamen dari rumah ke rumah, dari restoran ke restoran.
Pada zaman dahulu tanjidor juga sering ditampilkan dalam acara - acara besar, seperti acara Hari besar islam, parayaan cina yang sering disebut "Cap Go Meh", atau bisa ditemukan juga pada hari sedekah bumi yang menjadi tradisi masyarakat petani Cirebon. Namun pada akhir - akhir ini musik tanjidor sudah jarang sekali ditampilkan, munkin hanya sesekali saja, biasanya untuk sekarang - sekarang ini tanjidor hanya ditampilkan pada waktu Penyambutan tamu agung, Perhelatan/pengarakan pengantin. Adapun lagu - lagu yang sering dimainkan dalam orkes tanjidor adalah Kramton dan Bananas (yang merupakan lagu Belanda), Cente Manis, Keramat Karam, Merpati Putih, Surilang. Adapun lagu yang terkenal adalah Warung Pojok.